Oleh JJ Amstrong Sembiring
Bagaimanakah hubungan antara kaum Komunis dengan kaum proletar
umumnya ? Kaum Komunis tidak merupakan suatu partai tersendiri yang bertentangan dengan partai-partai kelas buruh lainnya. Mereka tidak
mempunyai kepentingan-kepentingan tersendiri dan terpisah dari
kepentingan-kepentingan proletariat sebagai keseluruhan. Mereka tidak
mengadakan prinsip-prinsip sendiri yang sektaris, yang hendak
dijadikan pola bagi gerakan proletar. Kaum Komunis dibandingkan
dengan partai-partai kelas buruh lainnya berbeda hanyalah karena hal
ini: 1. Di dalam perjuangan nasional dari kaum proletar di berbagai
negeri, mereka menunjukkan serta mengedepankan kepentingan-
kepentingan bersama dari seluruh proletariat, terlepas dari segala
nasionalitet. 2. Pada berbagai tingkat perkembangan yang harus
dilalui oleh perjuangan kelas buruh melawan borjuasi, mereka
senantiasa dan di mana saja mewakili kepentingan-kepentingan gerakan
itu sebagai keseluruhan. Oleh sebab itu kaum Komunis, pada satu
pihak, pada prakteknya adalah bagian yang paling maju dan teguh hati
dari partai-partai kelas buruh di setiap negeri, bagian yang
mendorong maju semua bagian lain-lainnya; pada pihak lain, secara
teori mereka mempunyai kelebihan atas massa proletariat yang besar
itu dalam pengertian tentang garis perjalanan, syarat-syarat, dan
hasil-hasil umum terakhir dari gerakan proletar. Tujuan terdekat dari
kaum Komunis adalah sama dengan tujuan semua partai proletar lain-
lainnya: pembentukan proletariat menjadi suatu kelas, penggulingan
kekuasaan borjuasi, perebutan kekuasaan politik oleh proletariat.
Kesimpulan-kesimpulan secara teori dari kaum Komunis sama sekali
bukanlah berdasar pada pikiran-pikiran atau prinsip-prinsip yang
telah diciptakan, atau yang ditemukan oleh salah seorang pembaharu-
dunia. Kesimpulan-kesimpulan itu hanya menyatakan semata-mata, secara
umum, hubungan-hubungan yang sebenarnya yang timbul dari suatu
perjuangan kelas yang sedang berlaku, dari suatu gerakan sejarah yang
sedang berjalan di depan mata kita. Penghapusan hubungan-hubungan
milik yang ada sekarang sama sekali bukanlah suatu ciri yang istimewa
dari Komunisme. Segala hubungan milik di masa lampau senantiasa
tunduk pada perubahan kesejarahan yang diakibatkan oleh perubahan
syarat-syarat sejarah. Revolusi Perancis misalnya, menghapuskan milik
feodal untuk memberi tempat kepada milik borjuis. [26] Ciri istimewa
Komunisme - bukanlah penghapusan milik pada umumnya, tetapi
penghapusan milik borjuis. Tetapi milik perseorangan borjuis modern
adalah pernyataan terakhir dan paling sempurna dari sistim
menghasilkan dan memiliki hasil-hasil yang didasarkan pada
antagonisme-antagonisme kelas, pada penghisapan terhadap yang banyak
oleh yang sedikit. Dalam artian ini, teori kaum Komunis dapatlah
diikhtisarkan dalam satu kalimat saja: Penghapusan milik
perseorangan. Kita kaum Komunis telah dimaki bahwa kita ingin
menghapuskan hak atas milik yang diperdapat seseorang sebagai hasil
kerja orang itu sendiri, milik yang dianggap sebagai dasar dari semua
kemerdekaan, kegiatan dan kebebasan seseorang. Milik yang diperoleh
dengan membanting tulang, yang direbut sendiri, yang dicari sendiri
secara halal! Apakah yang tuan maksudkan itu milik si tukang kecil,
milik si tani kecil, suatu bentuk milik yang mendahului bentuk milik
borjuis ? Itu tidak perlu dihapuskan; perkembangan industri telah
menghancurkannya banyak sekali, dan masih terus menghancurkannya
setiap harinya. Ataukah yang tuan maksudkan itu milik perseorangan
borjuis modern? Tetapi adakah kerja-upahan, kerja si proletar,
mendatangkan sesuatu milik untuk dia? Sama sekali tidak. Ia
menciptakan kapital, yaitu semacam milik yang menghisap kerja-upahan,
dan yang tidak dapat bertambah besar kecuali dengan syarat bahwa ia
menghasilkan kerja-upahan baru untuk penghisapan baru. Milik dalam
bentuknya yang sekarang ini adalah didasarkan pada antagonisme antara
kapital dengan kerja-upahan. Marilah kita periksa kedua belah segi
dari antagonisme ini. Untuk menjadi seorang kapitalis, orang tidak
saja harus mempunjai kedudukan perseorangan semata-mata, tetapi
kedudukan sosial dalam produksi. Kapital adalah suatu hasil kolektif,
dan ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari banyak
anggota, malahan lebih dari itu, pada tingkatan terakhir, ia hanya
dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari semua anggota masyarakat.
Oleh karena itu kapital bukanlah suatu kekuasaan pribadi, ia adalah
suatu kekuasaan sosial. Jadi, jika kapital itu dijadikan milik
bersama, menjadi milik semua anggota masyarakat, dengan itu milik
pribadi tidak diubah menjadi milik sosial. Hanyalah watak sosial
milik yang diubah. Watak kelasnya hilang. Marilah kita sekarang
bicara tentang kerja-upahan. Harga rata-rata dari kerja-upahan ialah
upah minimum, yaitu jumlah bahan-bahan keperluan hidup yang mutlak
diperlukan untuk mempertahankan buruh sebagai seorang buruh dalam
hidup sekedarnya. Oleh karena itu, apa yang telah dimiliki oleh buruh-
upahan berkat kerjanya, hanyalah cukup untuk memperpanjang dan
melanjutkan lagi hidup yang sekedarnya itu. Kita sekali-kali tidak
bermaksud untuk menghapuskan pemilikan pribadi atas hasil-hasil kerja
ini, pemilikan yang digunakan untuk mempertahankan dan melanjutkan
lagi hidup biasa sebagai Manusia, dan yang tidak menyisakan kelebihan
yang dapat digunakan untuk menguasai kerja orang-orang lain. Yang
hendak kita hapuskan hanyalah watak celaka dari pemilikan ini, di
mana buruh hidup hanya untuk memperbesar kapital belaka, dan
dibolehkan hidup hanya selama kepentingan kelas yang berkuasa
memerlukannya. Di dalam masyarakat borjuis, kerja yang hidup ini
hanyalah suatu alat untuk memperbanyak kerja yang telah tertimbun. Di
dalam masyarakat Komunis, kerja yang tertimbun itu hanyalah suatu
alat untuk memperluas, memperkaya, memajukan kehidupan buruh. Di
dalam masyarakat borjuis, karenanya, masa lampau menguasai masa kini;
di dalam masyarakat Komunis, masa kini menguasai masa lampau. Di
dalam masyarakat borjuis, kapital adalah bebas merdeka dan mempunyai
kepribadian, sedang manusia yang bekerja tidak bebas dan tidak
mempunyai kepribadian. Dan penghapusan keadaan begini ini dikatakan
oleh kaum borjuis, penghapusan kepribadian dan kemerdekaan! Dan
memang begitu. Penghapusan kepribadian borjuis, penghapusan kebebasan
borjuis dan kemerdekaan borjuis itulah yang memang dituju. Dengan
kemerdekaan diartikan, di bawah syarat-syarat produksi borjuis
sekarang ini, perdagangan bebas, penjualan dan pembelian bebas.
Tetapi jika penjualan dan pembelian itu lenyap, penjualan dan
pembelian bebas itupun lenyap juga. Obrolan tentang penjualan dan
pembelian bebas ini, dan segala "kata-kata gagah" lainnya dari
borjuasi mengenai kemerdekaan pada umumnya, mempunyai arti, jika ada,
hanya jika dibandingkan dengan penjualan dan pembelian terbatas,
dengan pedagang-pedagang terbelenggu dari Zaman Tengah, tetapi tidak
mempunyai arti jika dipertentangkan dengan penghapusan secara Komunis
atas penjualan dan pembelian, atas cara produksi borjuis, dan atas
borjuasi itu sendiri. Tuan merasa ngeri karena maksud kami untuk
menghapuskan milik perseorangan. Tetapi di dalam rnasyarakat tuan
yang ada sekarang ini, milik perseorangan sudah dihapuskan bagi
sembilan persepuluh dari penduduk; ia ada pada beberapa orang justru
karena ia tidak ada pada mereka yang sembilan persepuluh itu. Jadi
tuan memaki kami karena kami bermaksud menghapuskan suatu bentuk
milik, yang untuk adanya diperlukan syarat berupa tidak adanya suatu
milik apa pun bagi mayoritet melimpah dari masyarakat. Pendek kata,
tuan memaki kami bahwa kami bermaksud menghapuskan milik tuan. Memang
begitu, itulah justru yang kami maksudkan. Sejak dari saat ketika
kerja tidak lagi dapat dijadikan kapital, uang, atau sewa, [27]
dijadikan suatu kekuasaan sosial yang dapat dimonopolisasi, artinya,
sejak dari saat ketika milik pribadi tidak dapat lagi dijadikan milik
borjuis, dijadikan kapital, sejak dari saat itu, tuan katakan,
kepribadian telah hilang. Maka itu tuan harus mengakui bahwa yang
tuan maksudkan dengan pribadi adalah tidak lain daripada seorang
borjuis, seorang pemilik borjuis. Orang ini memang harus disapu
bersih dan tidak diberi kemungkinan untuk hidup. Komunisme tidak
menghapuskan kekuasaan seseorang untuk memiliki hasil-hasil
masyarakat; apa yang dilakukannya hanyalah merampas kekuasaan
seseorang untuk menjadikan kerja orang lain takluk kepadanya dengan
cara pemilikan semacam itu. Orang telah mengemukakan keberatan bahwa
dengan penghapusan milik perseorangan akan berhentilah semua
pekerjaan, dan kemalasan umum akan merajalela. Menurut pendapat ini,
masyarakat borjuis tentunya sudah lama lenyap karena kemalasan semata-
mata; karena mereka dari anggota-anggotanya yang bekerja, tidak
mendapat apa-apa, dan mereka yang mendapat sesuatu, tidak bekerja.
Seluruh keberatan ini hanyalah ungkapan lain dari kata-kata yang sama
artinya: tak ada lagi kerja-upahan apabila tak ada lagi kapital.
Semua keberatan yang dikemukakan terhadap cara menghasilkan dan
memiliki hasil-hasil material secara Komunis telah dikemukakan juga
terhadap cara menghasilkan dan memiliki hasil-hasil intelek secara
Komunis. Justru karena bagi kaum borjuis itu, lenyapnya milik kelas
berarti lenyapnya produksi itu sendiri, maka lenyapnya kebudayaan
kelas baginya berarti juga lenyapnya semua kebudayaan. Kebudayaan
itu, yang hilangnya sangat ditangisi olehnya, bagi golongan terbanyak
yang melimpah hanyalah berarti bahwa mereka itu dijadikan mesin.
Tetapi janganlah ribut bertengkar dengan kami selama terhadap
penghapusan milik borjuis yang kami maksudkan itu tuan mengenakan
ukuran anggapan-anggapan borjuis tuan tentang kemerdekaan,
kebudayaan, hukum, dsb. Pikiran-pikiran tuan itu justru adalah tidak
lain daripada buah yang dihasilkan oleh syarat-syarat produksi
borjuis dan milik borjuis tuan, tepat seperti halnya dengan ilmu
hukum tuan adalah tidak lain daripada kemauan kelas tuan yang
dijadikan undang-undang untuk semua, suatu kemauan, yang tujuan serta
wataknya yang hakiki ditentukan oleh syarat-syarat hidup ekonomi
kelas tuan. Anggapan egoistis yang menyebabkan tuan mengubah bentuk-
bentuk sosial yang timbul, dari cara produksi dan bentuk milik tuan
sekarang ini--hubungan-hubungan kesejarahan yang timbul dan lenyap
selama gerak maju produksi--menjadi hukum alam dan hukum akal yang
abadi, anggapan ini sama dengan anggapan semua kelas berkuasa yang
telah mendahului tuan. Apa yang sudah jelas tuan ketahui tentang
milik kuno [28], apa yang sudah tuan akui tentang milik feodal, tentu
saja akan terlarang bagi tuan untuk mengakui tentang bentuk milik
borjuis tuan sendiri. Penghapusan keluarga! Orang yang paling radikal
pun akan naik darah karena maksud keji kaum Komunis ini. Didasarkan
atas landasan apakah keluarga sekarang, keluarga borjuis itu? Atas
kapital, atas hasil pendapatan perseorangan. Dalam bentuknya yang
berkembang sempurna keluarga semacam ini terdapat hanya di kalangan
borjuasi saja. Tetapi keadaan ini mempunyai pelengkapnya berupa
ketiadaan keluarga yang terpaksa di kalangan kaum proletar, dan
berupa pelacuran umum. Keluarga borjuis akan lenyap dengan sendirinya
apabila pelengkapnya lenyap, dan kedua-duanya akan lenyap bersama
dengan lenyapnya kapital. Apakah tuan menuduh kami hendak
menghentikan penghisapan anak-anak oleh orang tuanya? Kami mengakui
kejahatan ini. Tetapi, tuan akan berkata, kami menghancurkan hubungan-
hubungan yang paling mesra, karena kami mengganti pendidikan rumah
dengan pendidikan sosial. Dan apakah pendidikan tuan tidak juga
ditentukan oleh masyarakat? Oleh hubungan-hubungan sosial, yang di
bawah syarat-syaratnya tuan mendidik, oleh campur tangan langsung,
atau tidak langsung dari masyarakat dengan perantaraan sekolah-
sekolah, dsb.? Kaum Komunis tidak menciptakan campur tangan
masyarakat dalam pendidikan; mereka hanya berusaha untuk mengubah
watak campur tangan itu, dan untuk menyelamatkan pendidikan agar
hindar dari pengaruh kelas yang berkuasa. Obrolan borjuis tentang
keluarga dan pendidikan, tentang ikatan mesra antara ibu-bapak dengan
anak, menjadi makin memuakkan, seiring dengan, karena akibat industri
besar, makin terputusnya segala ikatan keluarga di kalangan kaum
proletar, dan makin terubahnya anak-anak mereka menjadi barang
dagangan biasa dan perkakas kerja. Tetapi kalian kaum Komunis hendak
melakukan hak bersama atas kaum wanita, teriak seluruh borjuasi
dengan serentak. Borjuis memandang isterinya hanya sebagai suatu
perkakas produksi belaka. Ia mendengar bahwa perkakas-perkakas
produksi akan digunakan bersama, dan tentu saja tidak akan sampai
pada kesimpulan lain kecuali bahwa nasib dipergunakan bersama itu
akan menimpa pula kaum wanita. Ia sama sekali tidak mempunyai dugaan
bahwa sasaran sebenarnya yang dituju ialah justru menghapuskan
kedudukan kaum wanita sebagai perkakas produksi semata-mata. Lain
daripada itu tak ada lagi yang lebih menggelikan daripada kegusaran
borjuis kita terhadap apa yang mereka namakan hak-bersama atas kaum
wanita yang secara resmi berlaku di kalangan kaum Komunis. Kaum
Komunis tidak perlu melakukan hak-bersama atas kaum wanita; hal ini
telah ada hampir sepanjang segala zaman. Borjuis kita tidak puas
dengan hal bahwa untuk mereka ada tersedia isteri-isteri dan anak-
anak gadis kaum proletar, belum lagi pelacur-pelacur biasa, sangat
gemar saling menggoda isteri-isteri yang satu dengan lainnya di
kalangan mereka sendiri. Dalam kenyataannya perkawinan borjuis adalah
suatu sistim isteri-isteri untuk bersama. Kaum Komunis paling banyak
hanyalah dapat dituduh bahwa mereka hendak melakukan hak-bersama atas
kaum wanita secara sah dan terang-terangan, untuk mengganti yang
tersembunyi secara munafik. Lain daripada itu, teranglah dengan
sendirinya bahwa hapusnya sistim produksi yang sekarang ini tentu
mengakibatkan pula hapusnya hak-bersama atas kaum wanita yang timbul
dari sistim tersebut, ialah hapusnya pelacuran baik yang resmi maupun
yang tidak resmi. Selanjutnya kaum Komunis dituduh hendak
menghapuskan tanah air dan nasionalitet. Kaum buruh tidak mempunyai
tanah air. Kita tidak dapat mengambil dari mereka apa yang tidak ada
pada mereka. Karena proletariat pertama sekali harus merebut
kekuasaan politik, harus mengangkat dirinya menjadi kelas yang
memimpin dari nasion, harus mewujudkan dirinya sebagai nasion, maka
sejauh itu ia bersifat nasional, biarpun tidak dalam arti kata
menurut borjuasi. Perselisihan-perselisihan dan antagonisme-
antagonisme nasional antara bangsa-bangsa makin lama makin
menghilang, disebabkan oleh perkembangan borjuasi, oleh kemerdekaan
berdagang, oleh pasar dunia, oleh keseragaman dalam cara produksi dan
dalam syarat-syarat hidup yang selaras dengan itu. Kekuasaan
proletariat akan lebih mempercepat hilangnya itu semua. Aksi yang
bersatu, paling tidak dari negeri-negeri yang beradab, adalah salah
satu syarat utama untuk pembebasan proletariat. Sederajat dengan
dihapuskannya penghisapan atas seseorang oleh orang lainnya,
dihapuskan jugalah penghisapan atas suatu nasion oleh nasion lainnya.
Sederajat dengan hilangnya antagonisme antara kelas-kelas dalam suatu
nasion, berakhir jugalah permusuhan suatu nasion terhadap nasion
lainnya. Tuduhan-tuduhan terhadap Komunisme yang didasarkan pada
pendirian agama, filsafat dan, pada umumnya, pendirian ideologi
tidaklah perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Apakah diperlukan
penglihatan yang dalam, untuk memahami bahwa pikiran, pandangan dan
pengertian manusia, pendek kata, kesadaran manusia, berubah dengan
tiap-tiap perubahan dalam syarat-syarat hidup materilnya, dalam
hubungan-hubungan sosialnya dan dalam kehidupan sosialnya? Hal lain
apakah yang dibuktikan oleh sejarah pikiran, kecuali bahwa produksi
intelek mengubah wataknya sederajat dengan hal bahwa produksi materil
telah berubah? Pikiran-pikiran yang menguasai dalam tiap-tiap zaman
adalah senantiasa pikiran-pikiran kelas yang berkuasa. Apabila orang
berbicara tentang pikiran-pikiran yang merevolusionerkan masyarakat,
ia tidak lain hanyalah, mengungkapkan kenyataan, bahwa di dalam
masyarakat lama, anasir-anasir dari suatu masyarakat baru telah
diciptakan, dan bahwa leburnya pikiran-pikiran lama berjalan dengan
langkah-langkah yang sama dengan leburnya syarat-syarat hidup yang
lama. Ketika dunia kuno sedang mendekati ajalnya, agama-agama kuno
ditaklukkan oleh agama Kristen. Ketika pikiran-pikiran Kristen dalam
abad ke-18 tunduk pada pikiran-pikiran rasionil, masyarakat feodal
melakukan perjuangan mautnya melawan borjuasi yang ketika itu
revolusioner. Pikiran-pikiran tentang kebebasan beragama dan
kemerdekaan menganut suara hati, hanyalah mengungkapkan adanya
kekuasaan persaingan bebas di dalam bidang pengetahuan. "Tak dapat
disangkal lagi," demikian orang akan berkata, pikiran-pikiran
bersendikan agama, moral, filsafat, hukum, dsb. telah berubah dalam
perjalanan perkembangan sejarah. Tetapi agama, moral, filsafat, ilmu
politik, dan hukum, senantiasa tetap bertahan dan mengatasi
pergantian ini. "Kecuali itu, ada kebenaran-kebenaran abadi, semacam
Kemerdekaan, Keadilan, dsb., yang lazim berlaku untuk segala keadaan
masyarakat. Tetapi Komunisme menghapuskan kebenaran-kebenaran abadi,
ia menghapuskan semua agama, dan semua moral, dan bukannya menyusun
semuanya itu atas dasar yang baru; karenanya ia bertindak
bertentangan dengan segala pengalaman sejarah yang lampau." Apakah
jadinya arti tuduhan ini? Sejarah dari seluruh masyarakat masa lampau
terdiri dari perkembangan antagonisme-antagonisme kelas, antagonisme-
antagonisme yang mempunyai berbagai bentuk dalam berbagai zaman.
Tetapi bagaimanapun juga bentuknya, satu kenyataan adalah sama untuk
segala zaman yang telah lampau, yaitu, penghisapan atas sebagian dari
masyarakat oleh suatu bagian yang lain. Maka tidaklah mengherankan
bahwa kesadaran sosial dari abad-abad yang lampau, biarpun terdapat
segala kebanyak ragaman dan corak, bergerak dalam bentuk-bentuk
tertentu yang sama, atau pikiran-pikiran umum, yang tidak dapat
hilang sepenuhnya kecuali dengan lenyapnya sama sekali antagonisme-
antagonisme kelas. Revolusi Komunis adalah pemutusan yang paling
radikal dengan hubungan-hubungan milik yang tradisionil; tidaklah
mengherankan bahwa perkembangannya membawa serta pemutusan yang
paling radikal dengan pikiran-pikiran yang tradisionil. Tetapi
marilah kita biarkan saja dulu, keberatan-keberatan borjuis terhadap
Komunisme. Telah kita lihat di atas, bahwa langkah pertama dalam
revolusi kelas buruh, adalah mengangkat proletariat pada kedudukan
kelas yang berkuasa, memenangkan perjuangan demokrasi. Proletariat
akan menggunakan kekuasaan politiknya untuk merebut, selangkah demi
selangkah, semua kapital dari borjuasi, memusatkan semua perkakas
produksi ke dalam tangan Negara, artinya, proletariat yang
terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa [29]; dan untuk
meningkatkan jumlah tenaga-tenaga produktif secepat mungkin. Tentu
saja, pada permulaannya, ini tak dapat dilaksanakan kecuali dengan
jalan perombakan tak kenal ampun terhadap hak-hak atas milik, dan
terhadap syarat produksi borjuis; oleh sebab itu dengan jalan
tindakan-tindakan yang nampaknya secara ekonomi tidak mencukupi dan
tak tertahankan, tetapi yang selama berlangsungnya gerakan itu,
berlari lebih cepat, sehingga menghendaki perombakan yang lebih
lanjut terhadap susunan masyarakat lama, dan merupakan sesuatu yang
tak terelakkan sebagai cara untuk merevolusionerkan cara produksi.
Tindakan-tindakan ini tentu saja akan berlainan di negeri-negeri yang
berlainan. Biarpun demikian, di negeri-negeri yang paling maju,
tindakan-tindakan yang berikut ini umumnya dapat saja diterapkan
[30]. 1. Penghapusan milik berupa tanah dan penggunaan segala sewa
tanah untuk anggaran Negara. 2. Pajak penghasilan progresif yang
berat. 3. Penghapusan hak waris. 4. Penyitaan milik semua emigran dan
pemberontak. 5. Pemusatan kredit di tangan Negara, dengan perantaraan
sebuah bank nasional dengan kapital Negara dan monopoli penuh. 6.
Pemusatan alat-alat perhubungan dan pengangkutan ke dalam tangan
Negara. 7. Penambahan pabrik-pabrik dan perkakas-perkakas produksi
yang dimiliki oleh Negara; penggarapan tanah-tanah terlantar, dan
perbaikan tanah umumnya sesuai dengan rencana bersama. 8. Wajib kerja
yang sama untuk semua, pembentukan tentara-tentara industri, terutama
untuk pertanian. 9. Penggabungan antara perusahaan pertanian dengan
perusahaan industri, penghapusan berangsur-angsur perbedaan antara
kota dan desa, dengan pembagian penduduk yang lebih seimbang ke
seluruh negeri. 10. Pendidikan cuma-cuma untuk semua anak di sekolah-
sekolah umum; penghapusan kerja anak-anak di pabrik dalam bentuknya
yang sekarang ini. Perpaduan pendidikan dengan produksi materiil,
dsb., dsb. Apabila, dalam perjalanan perkembangan, perbedaan-
perbedaan kelas telah hilang, dan seluruh produksi telah dipusatkan
ke dalam tangan suatu perserikatan luas dari seluruh nasion,
kekuasaan umum akan kehilangan watak politiknya. Kekuasaan politik,
menurut arti kata yang sesungguhnya, hanyalah kekuasaan terorganisasi
dari suatu kelas untuk menindas kelas yang lain. Apabila proletariat
selama perjuangannya melawan borjuasi terpaksa, karena tekanan
keadaan, mengorganisasi dirinya sebagai kelas, apabila, dengan jalan
revolusi, ia menjadikan dirinya kelas yang berkuasa, dan, sebagai
kelas yang berkuasa, menghapuskan dengan kekerasan hubungan-hubungan
produksi yang lama, maka ia, bersama-sama dengan syarat-syarat ini
akan menghilangkan syarat-syarat untuk adanya antagonisme-antagonisme
kelas dan adanya kelas-kelas pada umumnya, dan dengan demikian akan
menghapuskan kekuasaannya sendiri sebagai kelas. Sebagai ganti dari
masyarakat borjuis yang lama, dengan kelas-kelasnya beserta
antagonisme-antagonisme kelasnya, kita akan mempunyai suatu
persekutuan hidup di mana perkembangan bebas dari setiap orang
menjadi syarat bagi perkembangan bebas dari semuanya. Awal halaman
III. Literatur Sosialis dan Komunis [31] 1. Sosialisme reaksioner a.
Sosialisme feodal Disebabkan oleh kedudukanya di dalam sejarah,
menjadilah panggilan suci aristokrasi Perancis dan Inggeris untuk
menulis brosur-brosur menentang masyarakat burjuis modern. Dalam
revolusi Perancis bulan Juli 1830, dan dalam gerakan Reform Inggeris,
[32] aristokrasi ini sekali lagi takluk pada parvenu [33] yang
dibenci itu. Suatu perjuangan politik yang gawat sudah tidak mungkin
ada lagi sama sekali. Hanya tinggal perjuangan literaturlah yang
masih mungkin. Tetapi dalam lapangan literaturpun semboyan-semboyan
lama dari zaman restorasi telah menjadi tidak mungkin. [34] Untuk
membangkitkan simpati, aristokrasi itu terpaksa pura-pura melupakan
kepentinganya sendiri dan merumuskan surat tuduhanya terhadap
burjuasi demi kepentingan kelas buruh yang terhisap semata-mata. Jadi
aristokrasi membalas dendamnya dengan menjanjikan lagu-lagu sindiran
terhadap majikannya yang baru, dan membisikkan ke telinga majikanya
itu ramalan-ramalan buruk tentang bencana yang akan datang. Dengan
jalan ini timbullah sosialisme feodal: setengah ratapan, setengah
sindiran; setengah gema masa lampau, setengah ancaman masadatang;
kadang-kadang dengan kritiknya yang pietah, pahit dan tajam menusuk
burjuasi tepat pada ulu hatinya; tetapi akibatnya selalu menggelikan
karena sama sekali tak mempunyai kemampuan untuk memahami perjalanan
sejarah modern. Untuk menghimpun Rakyat di sekitar dirinya,
aristokrasi melambai-lambaikan kantong-pengemis proletar sebagai
panji-panjinya. Tetapi sedemikian sering Rakyat mengikuti mereka,
Rakyat melihat di belakang mereka lambang kebesaran feodal yang lama,
dan lari bubar dengan tawa lebar dan mengejek. Sebagian dari kaum
Legitimis [35] Perancis dan kaum "Inggeris MudaE[36] memainkan lakon
ini. Dalam menunjukkan bahwa cara penghisapan mereka adalah berlainan
dengan cara penghisapan burjuasi, kaum feodal lupa bahwa mereka
menghisap dalam keadaan-keadaan dan syarat-syarat yang berlainan sama
sekali, dan yang kini telah menjadi kuno. Dalam memperlihatkan bahwa
di bawah kekuasaan mereka tak pernah ada proletariat modern,
mereka.lupa bahwa burjuasi modern adalah anak keturunan yang
sewajarnya dari bentuk masyarakat mereka sendiri. Lain daripada itu,
mereka sedikit sekali menyembunyikan watak reaksioner dari kritiknya
sehingga tuduhan mereka yang terutama terhadap burjuasi berarti juga
bahwa di bawah rezim burjuis berkembanglah suatu kelas, yang nantinya
akan pasti menghancurleburkan seluruh susunan tatatertib masyarakat
lama. Kemarahan mereka terhadap burjuasi mengenai hal bahwa burjuasi
melahirkan proletariat, tidak sehebat kemarahannya mengenai hal bahwa
burjuasi melahirkan proletariat yang revolusioner. Oleh sebab itu,
dalam praktek politik, mereka ikut serta dalam segala tindakan
kekerasan terhadap kelas buruh; dan dalam kehidupan biasa sehari-
hari, biarpun ucapan-ucapannya begitu muluk tinggi membubung, mereka
tidak malu-malu untuk memungut warisan buah lezat yang jatuh dari
pohon industri dan tidak malu-malu pula untuk menukarkan kejujuran,
cinta dan kehormatan dengan perdagangan bulu domba, perdagangan ubi-
gula dan minuman-minuman keras yang terbuat dari kentang. [37]
Sebagaimana pendeta senantiasa berjalan bergandengan tangan dengan
tuan tanah, demikian jugalah Sosialisme Gereja dengan Sosialisme
Feodal. Tak ada hal lain yang lebih mudah daripada memberi pulasan
Sosialis pada asetisme [38] Kristen. Bukankah agama Kristen telah
berseru dengan lantangnya menentang milik perseorangan, menentang
perkawinan, menentang Negara? Bukankah ia, sebagai ganti semuanya itu
tadi, telah mengkhotbahkan kedermawanan dan kemiskinan, pembujangan
dan kebiasaan menahan nafsu, kehidupan biara dan Ibunda Gereja?
Sosialisme Kristen tidak lain hanyalah air suci yang digunakan oleh
pendeta untuk mengkuduskan sakit-hati kaum aristokrat. b. Sosialisme
Burjuis Kecil Aristokrasi feodal bukanlah satu-satunya kelas yang
telah diruntuhkan oleh burjuasi, bukanlah satu-satunya kelas yang
syarat-syarat kelangsungannya menjadi rusak dan musnah dalam suasana
masyarakat burjuis modern. Warga kota dari Zaman Tengah dan petani
pemilik kecil adalah pendahulu dari burjuasi modern. Di negeri-negeri
yang industri dan perniagaannya belum berkembang, kedua kelas ini
masih hidup berdampingan dengan burdjuasi yang sedang tumbuh. Di
negeri-negeri di mana peradaban modern telah berkembang sepenuhnya,
terbentuklah suatu kelas burjuis kecil, yang terombang-ambing di
antara proletariat dan burjuasi dan senantiasa memperbarui dirinya
sebagai bagian-tambahan dari masyarakat burjuis. Tetapi anggota-
anggota orang-seorang dari kelas ini terus-menerus dicampakkan
kedalam kalangan proletariat oleh karena persaingan, dan setelah
industri modern maju, mereka itu malahan melihat datangnya saat
dimana mereka akan lenyap sama sekali sebagai golongan yang berdiri-
sendiri dari masyarakat modern, untuk digantikan, dalam perusahaan-
perusahaan, pertanian dan perniagaan, oleh mandor-mandor, pegawai-
pegawai, dan pelayan-pelayan toko. Di negeri-negeri semacam Perancis,
di mana kaum taninya merupakan bagian yang jauh lebih besar daripada
separo jumlah penduduk, adalah wajar bahwa penulis-penulis yang
memihak proletariat menentang burjuasi, memakai ukuran petani dan
burjuis kecil dalam kritiknya terhadap rezim burjuis, dan dari segi
pendirian kelas-kelas perantara ini membela kelas buruh. Dengan
begitu timbullah Sosialisme burjuis kecil. Sismondi [39] adalah
pemuka dari ajaran ini, tidak hanya di Perancis saja, tetapi juga di
Inggeris. Ajaran Sosialisme ini dengan sangat tajamnya mengurai
kontradiksi-kontradiksi di dalam syarat-syarat industri modern. Ia
menelanjangi pembelaan-pembelaan munafik dari kaum ekonomis. Ia
membuktikan dengan tak dapat disangkal lagi, akibat-akibat yang
mencelakakan dari mesin dan pembagian kerja; konsentrasi kapital dan
tanah ke dalam beberapa tangan saja; produksi-kelebihan dan krisis-
krisis ; ia menunjukkan keruntuhan yang tak terelakkan dari burjuis
kecil dan tani, kesengsaraan proletariat, anarki dalam produksi,
ketidakadilan yang sangat menyolok dalam pembagian kekayaan, perang
pemusnahan di bidang industri di kalangan nasion-nasion, penghancuran
ikatan-ikatan moral lama, hubungan-hubungan kekeluargaan lama,
nasionalitet-nasionalitet lama. Menurut tujuannya yang positif,
bagaimanapun juga Sosialisme macam ini memperjuangkan hidup
kembalinya alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran lama dan
bersama itu semua hubungan milik lama serta masyarakat lama, atau
membatasi alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran modern di dalam
rangka hubungan milik lama yang telah dan pasti dihancurkan oleh alat-
alat itu. Dalam kedua hal ini, kedua-duanya adalah reaksioner dan
utopi. Kata-kata mereka yang terakhir ialah: Gabungan gilde sebagai
ganti manufaktur; hubungan-hubungan patriarkal dalam pertanian.
Akhirnya, ketika kenyataan-kenyataan sejarah yang tak dapat dibantah
lagi telah menghapuskan semua pengaruh dari penipuan diri sendiri
yang memabukkan, Sosialisme macam ini mengundurkan diri dengan hina
dan sangat mengibakan. c. Sosialisme Jerman atau Sosialisme "SejatiE
Literatur Sosialis dan Komunis Perancis, suatu literatur yang lahir
di bawah tekanan burjuasi yang sedang berkuasa, dan yang merupakan
pernyataan dari perjuangan melawan kekuasaan ini, dimasukkan ke
Jerman pada suatu waktu ketika burjuasi di negeri itu baru saja
memulai perjuangannya menentang absolutisme feodal. Kaum filsuf,
setengah-filsuf dan "jiwa-jiwa berbakatEJerman dengan penuh nafsu
menguasai literatur ini dan hanya lupa bahwa berpindahnya tulisan-
tulisan tersebut keluar dari Perancis tidaklah disertai oleh
berpindahnya syarat-syarat sosial Perancis ke Jerman. Setelah
berhadap-hadapan dengan syarat-syarat sosial di Jerman, literatur
Perancis ini kehilangan segala arti praktisnya yang langsung, dan
hanya mempunyai corak literer semata-mata. Dengan demikian, bagi para
filsuf Jerman abad kedelapanbelas, tuntutan-tuntutan Revolusi
Perancis yang pertama tidaklah lebih daripada tuntutan-tuntutan "Akal
PraktisEpada umumnya, dan pernyataan kemauan dari burjuasi yang
revolusioner, menurut pandangan mereka berarti hukum-hukum dari
Kemauan belaka, hukum-hukum dari Kemauan sebagaimana yang seharusnya,
hukum-hukum dari Kemauan manusia yang sejati pada umumnya. Tulisan-
tulisan kaum literat Jerman hanya berwujud penyesuaian pikiran-
pikiran baru Perancis itu dengan perasaan filsafat kuno mereka, atau
lebih tepat lagi, mengambil pikiran-pikiran Perancis itu dengan tidak
meninggalkan pandangan filsafat mereka sendiri. Cara mengambilnya
berlangsung sama seperti memiliki bahasa asing, yaitu dengan jalan
menterjemahkan. Umum mengetahui bagaimana rahib-rahib menuliskan
riwayat hidup yang tidak masuk akal dari orang-orang suci Katolik di
atas manuskrip di mana telah dituliskan karangan-karangan kelasik
dari zaman purbakala ketika orang belum beragama. Kaum literat Jerman
berbuat sebaliknya dengan literatur keduniaan Perancis. Mereka
menuliskan filsafatnya yang tidak ada artinya itu di belakang tulisan
Perancis yang asli. Misalnya, di belakang kritik Perancis tentang
fungsi-fungsi ekonomi dari uang mereka tulis "Pengungkiran terhadap
KemanusiaanE dan di belakang kritik Perancis tentang negara burjuis,
mereka tulis "Penghapusan pengaruh faham abstrak pada umumnyaE dan
seterusnya. Penyelundupan kata-kata kosong filsafat ini ke dalam
kritik-kritik Perancis bersejarah itu mereka namakan "Filsafat
TindakanE "Sosialisme SejatiE "Ilmu Jerman tentang SosialismeE "D
asar Filsafat SosialismeE dan seterusnya. Literatur Sosialis dan
Komunis Perancis dengan demikian menjadi dikebiri sama sekali. Dan
oleh karena literatur ini di dalam tangan bangsa Jerman tidak lagi
menyatakan perjuangan suatu kelas melawan kelas lainnya, dia merasa
yakin telah mengatasi "kesepihakan PerancisEdan merasa telah
mengemukakan bukan keperluan-keperluan yang sebenarnya, tetapi
keperluan-keperluan akan Kebenaran; bukan kepentingan-kepentingan
proletariat, tetapi kepentingan-kepentingan Dunia Kemanusiaan,
Manusia umumnya, yang tidak termasuk dalam sesuatu kelas, tidak
mempunyai kenyataan, manusia yang hanya terdapat di dalam dunia gelap
khayalan filsafat saja. Sosialisme Jerman ini yang telah menerima
pelajarannya sebagai murid begitu sungguh-sungguh dan khidmat, dan
yang telah memuji-muji dagangannya yang tak berharga itu dengan gaja
tukang jual obat, sementara itu berangsur-angsur berkurang
ketololannya yang congkak itu. Perlawanan burjuasi Jerman dan
terutama burjuasi Prusia terhadap aristokrasi feodal dan monarki
absolut dengan perkataan lain, gerakan liberal, menjadi semakin
sengit. Dengan demikian Sosialisme "SejatiEmendapat kesempatan yang
telah dinanti-nantikan itu untuk menghadapi gerakan politik dengan
tuntutan-tuntutan Sosialls, untuk melemparkan kutukan-kutukan
tradisionil terhadap liberalisme, terhadap pemerintah yang
representatif, terhadap persaingan burjuis, kemerdekaan pers burjuis,
perundang-undangan burjuis, kemerdekaan dan persamaan burjuis, dan
untuk menganjurkan kepada massa bahwa mereka tak akan mendapat suatu
apapun dan akan kehilangan segala-galanya dalam gerakan burjuis ini.
Sosialisme Jerman yang menjadi kumandang kosong dari kritik-kritik
Perancis justru lupa pada waktu itu, bahwa kritik-kritik Perancis
mengandung ketentuan adanya masyarakat burjuis modern dengan syarat-
syarat ekonomi hidupnya yang sesuai dan susunan politik yang
disesuaikan dengan itu, ialah hal-hal yang sebenarnya harus dicapai
sebagai tujuan dari perjuangan yang akan datang di Jerman. Bagi
pemerintah-pemerintah yang mempunyai kekuasaan mutlak dengan pengikut-
pengikutnya yang terdiri dari pendeta-pendeta, profesor-profesor,
tuantanah-tuantanah besar dan pegawai-pegawai pemerintah, Sosialisme
"SejatiEini merupakan suatu alat yang berguna untuk menakut-nakuti
burjuasi yang sedang mengancam. Ini adalah sebagai obat penawar
sesudah merasakan kepedihan cambukan dan tembakan yang digunakan oleh
pemerintah-pemerintah tadi, justru pada waktu itu, untuk menghadapi
pemberontakan-pemberontakan kelas buruh Jerman. Jadi selain daripada
Sosialisme "SejatiEini menjadi senjata bagi pemerintah-pemerintah
itu guna melawan burjuasi Jerman, ia juga langsung mewakili
kepentingan reaksioner, kepentingan burjuasi kecil Filistin [40]
Jerman. Di Jerman, kelas burjuis kecil, peninggalan abad keenambelas,
yang sejak itu senantiasa timbul kembali dalam berbagai bentuk,
adalah dasar sosial yang sebenarnya dari keadaan-keadaan yang sedang
berlaku. Mempertahankan kelas ini berarti mempertahankan keadaan-
keadaan yang sedang berlaku di Jerman. Kekuasaan industri dan politik
dari burjuasi mengancam kelas ini dengan suatu kehancuran - pada satu
pihak, karena konsentrasi kapital; pada pihak lain, karena timbulnya
proletariat yang revolusioner. Sosialisme "SejatiEtimbul untuk
membunuh kedua mangsanya ini dengan satu kali pukul. Ia menjalar
seperti suatu wabah. Pakaian yang terbuat daripada jaring laba-laba
yang spekulatif, disulam dengan bunga kata-kata indah yang dicelup ke
dalam air perasaan hati yang merana, pakaian yang luar biasa ini yang
digunakan oleh kaum Sosialis Jerman untuk membalut "kebenaran-
kebenaran abadiEmereka yang tidak berharga, yang hanya tinggal kulit
dan tulang belaka, dapat memperluas penjualan barang dagangan mereka
secara luar biasa di kalangan publik yang semacam itu. Dan dari
pihaknya sendiri, Sosialisme Jerman makin lama makin mengakui
panggilan atas dirinya sebagai wakil dari kaum Filistin burjuis kecil
yang sombong. Ia mengumumkan nasion Jerman sebagai manusia teladan
dan Filistin kecil Jerman sebagai manusia teladan. Kepada setiap
kerendahan budi yang keji dari manusia teladan ini ia berikan
pengertian sosialis yang lebih tinggi, yang tersembunyi, yang sungguh
bertentangan dengan wataknya yang sebenarnya. Ia telah bertindak
sedemikian jauh hingga dengan langsung menentang aliran Komunisme
yang "merusak secara ganasE dan dengan menyatakan kebenciannya yang
amat sangat dan tidak berpihak terhadap semua perjuangan kelas.
Kecuali beberapa buah saja, segala yang dinamakan publikasi Sosialis
dan Komunis yang sekarang (1847) beredar di Jerman termasuk dalam
lingkungan literatur yang kotor dan melemahkan semangat ini. [e] 2.
Sosialisme Konservatif atau Sosialisme Burjuis Sebagian dari burjuasi
berkehendak memperbaiki kepincangan-kepincangan sosial untuk menjamin
kelangsungan masyarakat burjuis. Ke dalam golongan.ini termasuk kaum
ekonomis, filantropis, humanis, golongan yang bertujuan memperbaiki
keadaan kelas buruh, organisator-organisator badan amal, anggota-
anggota perkumpulan-perkumpulan penyayang binatang, kaum fanatis
penganut kesederhanaan, kaum perombak secara tambalsulam dari segala
macam corak. Dan lagi bentuk Sosialisme ini telah diolah lebih lanjut
dan tersusun menjadi sistim-sistim yang sempurna. Sebagai suatu
contoh dari Sosialisme macam ini boleh disebut Philosophie de la Misèr
e [41] dari Proudhon. Burjuis Sosialis menghendaki segala kebaikan
dan manfaat dari syarat-syarat sosial modern tanpa perjuangan dan
bahaya-bahaya yang mesti timbul dari situ. Mereka menginginkan
keadaan masyarakat yang sekarang tanpa anasir-anasirnya yang
revolusioner dan yang mendatangkan kehancuran. Mereka menghendaki
suatu burjuasi tanpa proletariat. Burjuasi tentu saja menganggap
dunia di mana ia menjadi yang dipertuan sebagai dunia yang terbaik.
Sosialisme burjuis mengembangkan anggapan yang menyenangkan ini
menjadi berbagai sistim yang sempurna atau setengah sempurna. Dalam
menghendaki supaya proletariat melaksanakan sistim semacam itu, dan
supaya dengan demikian langsung memasuki Jerusalem Baru, ia dalam
kenyataannya hanyalah menghendaki supaya proletariat tinggal di dalam
batas-batas masyarakat yang ada sekarang, tetapi harus melemparkan
segala pikiran kebenciannya mengenai burjuasi. Bentuk yang kedua dari
Sosialisme ini yang lebih praktis tetapi kurang sistimatis, mencoba
mengecilkan tiap gerakan revolusioner di mata kelas buruh dengan
menunjukkan bahwa bukan reform politik semata-mata, tetapi hanyalah
suatu perubahan dalam syarat-syarat hidup materiil, dalam hubungan-
hubungan ekonomi, yang akan mendatangkan sesuatu manfaat dan
keuntungan bagi mereka. Tetapi dengan perubahan-perubahan dalam
syarat-syarat hidup materiil, bentuk Sosialisme ini sekali-kali tidak
mengartikan penghapusan hubungan-hubungan produksi burjuis, suatu
penghapusan yang hanya dapat dilakukan dengan suatu revolusi, tetapi
perbaikan-perbaikan administratif yang didasarkan pada terus
berlangsungnya hubungan-hubungan produksi ini; maka itu, perbaikan-
perbaikan yang sama sekali tidak mempengaruhi hubungan-hubungan
antara kapital dengan kerja, tetapi paling banyak, mengurangi beaja
dan menyederhanakan pekerjaan administratif pemerintah burjuis.
Sosialisme burjuis mendapat pernyataan yang selaras, jika dan hanya
jika ia menjadi suatu susunan kata-kata kosong dalam pidato belaka.
Perdagangan bebas! untuk kepentingan kelas buruh; tarif-bea yang
melindungi! untuk kepentingan kelas buruh; perubahan peraturan
penjara! untuk kepentingan kelas buruh; inilah kata-kata yang
terakhir dan satu-satunya yang sungguh-sungguh dimaksudkan oleh
Sosialisme burjuis. Ia disimpulkan dalam kata-kata: burjuis adalah
burjuis - untuk kepentingan kelas buruh. 3. Sosialisme dan Komunisme
yang Kritis Utopi Kita di sini tidak membicarakan literatur yang
dalam tiap revolusi besar modern selalu menyatakan tuntutan-tuntutan
proletariat, seperti tulisan-tulisan Babeuf [42] dan lain-lainnya.
Percobaan-percobaan langsung yang pertama dari proletariat untuk
mencapai tujuan-tujuannya sendiri, yang dilakukan dalam waktu
kekacauan umum, ketika masyarakat feodal sedang ditumbangkan,
percobaan-percobaan ini sudah tentu gagal, oleh karena keadaan
proletariat yang belum berkembang ketika itu dan juga oleh tidak
adanya syarat-syarat ekonomi untuk kebebasannya, syarat-syarat yang
masih harus diadakan dan hanya dapat diadakan oleh zaman burjuis yang
akan datang. Literatur revolusioner yang mengikuti gerakan-gerakan
yang pertama dari proletariat ini sudah tentu mempunyai watak yang
reaksioner. Ia memberikan didikan asetisme universal dan didikan
persamaan sosial dalam bentuk yang sangat kasar. Sistim-sistem yang
sesungguhnya dinamakan sistim Sosialis dan Komunis, yaitu sistim-
sistem Saint-Simon, Fourier, Owen dan lain-lainnya, timbul pada
permulaan masa belum berkembangnya perjuangan antara proletariat
dengan burjuasi, seperti diterangkan di atas. (Iihat Bab I. Kaum
Burjuis dan Kaum Proletar). Para pendiri sistim ini, sesungguhnya
melihat antagonisme-antagonisme kelas, dan juga melihat bergeraknya
anasir-anasir yang menghancurkan bentuk masyarakat yang sedang
berlaku. Tetapi proletariat, yang baru lahir ini, memberikan kepada
mereka suatu gambaran dari kelas yang tidak mempunyai sesuatu
inisiatif bersejarah atau sesuatu gerakan politik yang berdiri
sendiri. Karena perkembangan antagonisme kelas adalah sejalan dengan
perkembangan industri, maka keadaan ekonomi, sebagaimana yang mereka
ketahui, masih belum lagi memberikan kepada mereka syarat-syarat
materiil untuk kebebasan proletariat. Oleh sebab itu mereka mencari
suatu ilmu sosial baru, mencari hukum-hukum sosial baru, untuk
menimbulkan syarat-syarat ini. Aktivitet mencipta dari mereka sendiri
harus menggantikan aktivitet sosial; syarat-syarat untuk kebebasan
yang ditimbulkan menurut sejarah harus tunduk pada syarat-syarat yang
bersifat khayal; dan terorganisasinya proletariat sebagai kelas yang
maju secara berangsur-angsur harus tunduk pada terorganisasinya suatu
masyarakat yang diangan-angankan oleh mereka sendiri. Sejarah yang
akan datang, menurut pandangan mereka, menjadi propaganda dan
penyelenggaraan dalam praktek dari rencana-rencana sosial mereka.
Dalam menyusun rencana-rencananya itu, mereka sudah tentu insyaf
bahwa mereka terutama memperhatikan kepentingan kelas buruh sebagai
kelas yang paling menderita. Mereka memandang proletariat hanya
semata-mata sebagai kelas yang menderita. Keadaan perjuangan kelas
yang belum berkembang itu, maupun keadaan-keadaan sekeliling mereka
sendiri, menyebabkan kaum Sosialis semacam ini menganggap dirinya
jauh diatas segala antagonisme-antagonisme kelas. Mereka ingin
memperbaiki keadaan tiap-tiap anggota masyarakat, bahkan juga keadaan
golongan yang sudah paling beruntung. Dari itu, mereka biasa berseru
kepada masyarakat seumumnya tanpa membeda-bedakan kelas; bahkan lebih
suka berseru kepada kelas yang berkuasa. Sebab, jika sekali orang
sudah mengerti akan sistim mereka, bagaimanakah orang itu tak akan
melihat di dalamnya rencana yang terbaik dari keadaan masyarakat yang
terbaik? Oleh sebab itu mereka menolak segala aksi politik, dan
terutama segala aksi revolusioner; mereka ingin mencapai tuiuan-
tujuannya dengan jalan damai, dan berusaha dengan percobaan-percobaan
kecil yang sudah tentu gagal, dan dengan kekuatan contoh, untuk
membuka jalan bagi ajaran sosial baru ini. Gambaran-gambaran khayal
dari masyarakat masadatang yang semacam itu, yang digambarkan pada
masa ketika proletariat masih berada dalam keadaan yang sangat
terbelakang dan hanya mempunyai pandangan yang bersifat khayal
tentang kedudukannya sendiri, adalah sesuai dengan hasrat-hasrat
pertama yang naluriah dari kelas itu untuk pembangunan-kembali
masyarakat secara umum. Tetapi tulisan-tulisan Sosialis dan Komunis
ini juga mengandung suatu anasir yang kritis. Mereka menyerang tiap
dasar dari masyarakat yang sekarang. Oleh sebab itu mereka memberi
bahan-bahan penerangan yang sangat berharga bagi kelas buruh.
Tindakan-tindakan praktis yang diusulkan didalamnya - seperti
penghapusan perbedaan antara kota dan desa, penghapusan keluarga,
penghapusan dijalankannya industri-industri untuk kepentingan
perseorangan, dan penghapusan sistim-sumpah, pernyataan tentang
persamaan sosial, perubahan fungsi Negara menjadi hanya pengawas
produksi saja - semua usul ini semata-mata menunjukkan hilangnya
antagonisme-antagonisme kelas yang pada waktu itu baru saja mulai
timbul, dan yang dalam tulisan-tulisan ini, baru dikenal hanya dalam
bentuknya yang permulaan, yang hanya samar-samar dan tidak tertentu.
Oleh sebab itu usul-usul tersebut sama sekali bersifat utopi. Isi
Sosialisme dan Komunisme yang kritis-utopi itu mengandung suatu
tujuan yang bertentangan dengan perkembangan sejarah. Bersamaan
dengan berkembangnya perjuangan kelas dan bersamaan dengan perjuangan
kelas itu mengambil bentuk yang tertentu, maka hilanglah semua arti
dalam praktek dan kebenaran teoritis dari pendirian khayal yang
menyatakan berada diluar perjuangan, dan demikian juga serangan-
serangan yang bersifat khayal terhadapnya. Oleh karena itu, walaupun
para pencipta sistim-sistem ini dalam banyak hal revolusioner,
pengikut-pengikut mereka senantiasa merupakan golongan-golongan
reaksioner semata-mata. Mereka berpegang teguh kepada pandangan-
pandangan asli dari guru-guru mereka, bertentangan dengan
perkembangan kesejarahan yang progresif dari proletariat. Oleh karena
itu mereka mencoba dengan konsekwen memadamkan perjuangan kelas dan
mendamaikan antagonisme-antagonisme kelas. Mereka masih memimpikan
pelaksanaan percobaan dari utopi-utopi sosial mereka, bermimpi
tentang membentuk "phalanstere-phalanstereE[f] yang terpencil,
tentang mendirikan "Home ColoniesE[g] atau mengadakan suatu "Icaria
KecilE- Jerusalem Baru kecil-kecilan - dan untuk mewujudkan segala
lamunan ini, mereka terpaksa meminta belaskasihan dan uang dari kaum
burjuis. Ber-angsur-angsur mereka tenggelam kedalam golongan kaum
Sosialis konservatif reaksioner yang telah digambarkan di atas,
berbeda dengan mereka ini hanya dalam hal bahwa mereka berlagak
pintar dengan lebih sistimatis, dan dalam hal kepercayaan mereka yang
fanatik dan bersifat ketakhayulan kepada pengaruh yang mentakjubkan
dari ilmu sosial mereka. Oleh karena itu mereka dengan keras
menentang segala aksi politik dari pihak kelas buruh; aksi yang
semacam itu, menurut mereka, hanya dapat terjadi karena sama sekali
tidak percaya kepada ajaran yang baru itu. Kaum Owenis di Inggris dan
kaum Fourieris di Perancis masing-masing menentang kaum Cartis [43]
dan kaum Reformis. [44] Awal halaman IV. Pendirian kaum Komunis dalam
hubungan dengan berbagai partai oposisi Dalam Bab II telah dijelaskan
hubungan-hubungan kaum Komunis dengan partai-partai kelas buruh yang
ada, seperti kaum Cartis di Inggeris dan kaum Reformer Agraria di
Amerika. [45] Kaum Komunis berjuang untuk mencapai tujuannya yang
terdekat, untuk menuntut pelaksanaan kepentingan-kepentingan
sementara dari kelas buruh; tetapi dalam gerakan yang sekarang mereka
juga mewakili dan memperhatikan masadatang gerakan itu. Di Perancis
kaum Komunis menggabungkan diri dengan kaum Sosial-Demokrat [h]
menentang burjuasi yang konservatif dan radikal, tetapi dengan
memegang teguh hak untuk menentukan pendirian yang kritis terhadap
semboyan-semboyan dan ilusi-ilusi yang ditinggalkan turun-temurun
oleh Revolusi yang besar. Di Swis mereka menyokong kaum Radikal [46],
dengan tidak melupakan kenyataan, bahwa partai ini terdiri dari
anasir-anasir yang antagonistis, sebagian dari kaum Sosialis
Demokrat, menurut faham Perancis, sebagian dari kaum burjuis radikal.
Di Polandia mereka menyokong partai yang mendorong revolusi agraria
sebagai syarat utama untuk kebebasan nasional, menyokong partai yang
mengobarkan pemberontakan Krakau dalam tahun 1846. [47] Di Jerman
mereka berjuang bersama-sama dengan burjuasi selama burjuasi itu
bertindak secara revolusioner menentang monarki absolut, tuantanah
feodal dan burjuasi kecil. [48] Tetapi mereka tak pernah berhenti
barang sekejappun menanamkan kedalam kelas buruh pengertian yang
sejelas mungkin tentang antagonisme yang bermusuhan antara burjuasi
dengan proletariat, supaya kaum buruh Jerman dapat langsung
menggunakan semua syarat sosial dan politik yang tidak boleh tidak
mesti ditimbulkan oleh burjuasi bersama-sama dengan kekuasaannya,
sebagai senjata terhadap burjuasi, dan supaya sesudah jatuhnya kelas-
kelas reaksioner di Jerman, perjuangan melawan burjuasi itu sendiri
dapat segera dimulai. Kaum Komunis mengarahkan perhatiannya terutama
kepada Jerman, sebab negeri itu sedang berada dekat pada saat
revolusi burjuis yang mesti akan berlangsung dalam syarat-syarat
peradaban Eropa yang lebih maju dan dengan suatu proletariat yang
jauh lebih maju daripada proletariat di lnggeris dalam abad
ketujuhbelas, dan proletariat di Perancis dalam abad kedelapanbelas,
dan oleh karena itu revolusi burjuis di Jerman tidak lain hanya akan
menjadi pendahuluan dari suatu revolusi proletar yang segera akan
menyusul. Pendeknya, dimana-mana kaum Komunis menyokong tiap gerakan
revolusioner menentang susunan tatatertib sosial dan politik yang
sekarang. [i] Dalam segala gerakan ini mereka mengemukakan masalah
milik sebagai masalah yang pokok bagi tiap gerakan, tidak pandang
derajat perkembangannya pada waktu itu. Akhirnya, mereka bekerja
dimana saja untuk persatuan dan kerukunan partai-partai demokratis di
semua negeri. Kaum Komunis tidak sudi menyembunyikan pandangan-
pandangan dan cita-citanya. Mereka menerangkan dengan terang-terangan
bahwa cita-citanya dapat dicapai hanya dangan membongkar dengan
kekerasan segala syarat sosial yang sedang berlaku. Biarkan kelas-
kelas yang berkuasa gemetar menghadapi revolusi Komunis. Kaum
proletar tidak akan kehilangan suatu apapun kecuali belenggu mereka.
Mereka akan menguasai dunia. Ditulis di Bandung (Desa Ciwaruga) Tahun 1991, di Bulan Desember.
DESEMBER 1999
posted on Mar 19, 2008 1:47 PM ()