Dr Widodo Judarwanto SpA

> 30 days ago
‹ chat status

Profile

Name:
Dr Widodo Judarwanto SpA
Location:
jakarta, ID
Birthday:
09/25/1964
Status:
Married
Job / Career:
Health Care

Stats

Posts:
60
Post Reads:
9,067
Last Online:
> 30 days ago

Users Chatting

My Friends

> 30 days ago

Subscribe

Health & Fitness > Pilek Membandel

  Pilek Membandel

GANGGUAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK DAN ALERGI MAKANAN

Dr Widodo Judarwanto SpA

ALLERGY BEHAVIOUR CLINiC
PICKY EATERS CLINIC (Klinik kesulitan makan)
JL Rawasari Selatan 50, Cempaka Putih Jakarta Pusat
Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat
Rumah Sakit Bunda Jakarta, Jl Teuku cikditiro 28 Jakarta Pusat
telp : (021) 70081995 - 4264126 – 31922005
email : wido25@hotmail.com , htpp://www.childrenfamily.com

Dok, anak saya sudah pilek lebih dari 2 bulan dan bulan ini sudah 5 kali mimisan! Sudah berganti-ganti obat dan dokter, baik dokter anak atau dokter THT. Tanpa menunggu jawaban dokter orangtua terus berceloteh mungkin karena bulan ini udaranya sangat panas atau tangan si anak sering mengorek hidungnya.
Gangguan telinga, hidung dan tenggorokan termasuk pilek, hidung buntu atau mimisan merupakan gejala penyakit yang sering dikeluhkan pada penderita anak. Penyakit alergi tampaknya berperanan paling utama sebagai penyebab dalam kasus tersebut. Alergi makanan dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan hidung, tenggorok dan telinga. Penderita yang sensitive pada daerah hidung, tenggorok dan telinga biasanya juga mengalami gejala alergi pada kulit dan saluran cerna.
Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan dengan gangguan telinga hidung dan tenggorok adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obatan anti alergi dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi. Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dapat dikurangi.
Deteksi gejala alergi dan gangguan saluran napas pada anak harus dilakukan sejak dini. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap gangguan telinga, hidung dan tenggorokan serta komplikasinya dapat dicegah atau diminimalkan.
ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROK
Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistim tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Fungsi organ tubuh yang sering terlibat dalam proses terjadinya alergi makanan adalah gangguan telinga, hidung dan tenggorok.
Alergi makanan ternyata dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Terakhir terungkap bahwa alergi ternyata bisa mengganggu fungsi otak, sehingga sangat mengganggu perkembangan anak Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala Autis.

HIDUNG
Pada bayi biasanya sudah dikenali tampak sering bersin terutama pagi hari atau saat mandi. Bila sering bersin biasanya disertai mata sering belekan atau berair. Hal ini terjadi karena bila hidung terganggu maka saluran air mata yang menghubungkan hidung dan mata akan terganggu atau buntu. Pada keadaan seperti itu, kadang mata yang belekan hanya satu sisi. Biasanya berkaitan dengan hidung buntu pada sisi yang sama. Bila ini terjadi anak akan selalu berusaha miring pada sisi yang terganggu. Bila berlangsung lama akan membuat kepala anak jadi tidak tumbuh rata (”peyang”)
Manifestasi klinis alergi pada hidung yang sering terjadi berupa rinitis, hidung gatal, bersin dan faringitis. Kadang dijumpai tenggorokan atau palatum (langit-langit mulut) terasa gatal dan post nasal drip (cairan di tenggorok). Bila keluhan pilek atau batuk sering terjadi dan berlanjut lama akan menyebabkan komplikasi sinusitis, polip, epistaksis (”mimisan”), deviasi septum nasi (hidung bengkok), tonsillitis kronis (”amandel berulang”) atau faringitis kronis (”sakit tenggorokan lama”).
Komplikasi yang terjadi tersebut sering mengakibatkan tindakan operatif, misalnya pada sinusitis, tonsilitis kronis dan deviasi septum nasi. Tidak jarang pada penderita tindakan operatif itu terjadi berulang beberapa kali, karena setelah operasi keluhan penyebab utama komplikasi seperti pilek berlangsung terus.
Komplikasi lain yang bisa terjadi bila pilek berkepanjangan adalah epitaksis. Penyebabnya adalah rapuhnya pembuluh darah di sekitar hidung akibat sering pilek atau reaksi inflamasi yang terus menerus terjadi pada hidung .
Ciri khas pada anak yang lebih besar biasanya dijumpai tanda hidung kelinci (rabbit nose) yaitu anak sering menggerak-gerakkan hidung, sering menggosok-gosok hidung (salam alergi), Bila tidur sering ngorok, mulut terbuka atau napas dengan mulut, kadang juga timbul suara serak atau parau. Sering disertai timbulnya benjolan kelenjar di leher dan belakang kepala
Rinitis alergika dalah reaksi abnormal (hipersensitif) pada organ tubuh hidung yang bersifat khas yang timbul pada penderita alergi. Reaksi yang ditimbulkan berupa bersin paroksimal, pilek encer dan hidung buntu. Biasanya lebih sering terjadi pada malam hari atau pagi, siang hari berkurang.
Sinusitis sering dialami pada kasus anak alergi, terdapat 2 jenis sinusitis yaitu sinusitis maksilaris akut dan sinusitis maksilaris kronis. Pada penderita alergi yang sering mengalami pilek beresiko mudah terkena sinusitis maksilaris akut. Sinusitis maksilaris akut merupakan npenyakit infeksi mukosa sinus maksilaris yang disebabkan karena kuman dan virus. Gejalanya berupa panas badan, pilek kental, berbau kadang bercampur darah. Disertai nyeri pipi, kepala dan gigi. Hidung buntu dan suara bindeng. Pada X-photo (rontgen) sinus paranasal water didapatkan kesuraman, gambaran air fluid level dan penebalan mucosa.
Bila pilek berlangsung lama dan tidak kunjung membaik sereta sering berulang maka komplikasi dapat terjadi adalah mengakibatkan sinusitis maksilaris kronis. Sinusitis Maksilaris kronis adalah sinusitis yang tidak kunjung sembuh dengan pengobatan dan dapat terjadi perubahaan histologis mukosa daerah sinus berupa fibrosis dan metaplasi skwamosa. Gejalanya berupa pilek kental, berbau biasanya satu sisi, badan tidak panas, batuk-batuk, nyeri kepala bisa ada/tidak dan rasa kering tenggorok (post nasal drip). Disertai nyeri pipi, kepala dan gigi. Hidung buntu dan suara bindeng. Pada X-photo (rontgen) sinus paranasal water didapatkan kesuraman pada sisi yang sakit dan penebalan mucosa.
Polip hidung adalah pengertian morfologis (bentuk) yang berarti penonjolan mukosa yang panjang dan bertangkai. Factor penyebabnya adalah alergi pilek atau radang kronis yang berlangsung lama dan berulang-ulang. Terjadi hambatan aliran kembali cairan dalam sel sehingga terjadi edema (pembengkakkan), penonjolan mukosa menjadi panjang dan bertangkai.




TELINGA
Gangguan alergi yang sering dikaitkan dengan telinga pada anak adalah telinga sering gatal, produksi saluran telinga banyak dan sedikit bau. Gejala ini ditandai pada anak sering menggosok lubang telinga.
Gangguan lain adalah otitis eksterna (timbul bisul atau jamur di saluran telinga bagian luar). Gangguan ini ditandai dengan nyeri yang sangat bila telinga tersentuh atau tertekan. Gangguan ini dicurigai disebabkan karena alergi bila saat keluhan itu timbul disertai gangguan kulit seperti biang keringat, bisulan, timbul bercak merah seperti digigit nyamuk atau gatal pada kulit lipatan tangan dan kaki, atau bintilan di kelopak mata.
Pada anak yang lebih besar biasanya ditandai dengan nyeri telinga, telinga seperti penuh atau telinga berdenging.

TENGGOROK
Gangguan tenggorok yang disebabkan karena alergi makanan biasanya berupa banyaknya lendir ditenggorokan, nyeri tenggorok, rasa gatal di tenggorok biasanya juga bersamaan dengan rasa gatal di telinga.
Pada penderita alergi yang disertai dengan keluhan infeksi berulang sering didapatkan pembesaran tonsil atau amandel. Penderita dengan gangguan ini sering mendapatkan tindakan overtreatment operasi tonsilektomi atau tindakan operasi pengambilan tonsil atau amandel yang berlebihan meskipun padahal belum ada indikasi.

ALERGI ATAU INFEKSI ?
Gangguan saluran napas termasuk batuk dan pilek merupakan gejala penyakit yang sering dikeluhkan pada penderita anak yang melakukan rawat jalan. Penyebab batuk, pilek dan gangguan saluran napas lainnya adalah infeksi, alergio dan proses non spesifik. Sebenarnya tidak sulit untuk membedakan gangguan saluran napas tersebut adalah infeksi saluran napas akut atau alergi. Tetapi kenyataannya banyak kasus alergi seringkali diobati sebagai antibiotika atau dianggap sebagai infeksi. Pada penderita alergi bila mengalami gangguan infeksi saluran napas akut seringkali berkepanjangan. Pada penderita yang tidak mempunyai bakat alergi mungkin infeksi itu hanya berlangsung 3 – 7 hari, tetapi pada penderita alergi gejala berlangsung lebih dari 2 minggu. Penyakit infeksi saluran napas yang disebabkan karena virus biasanya pada minggu ke dua biasanya fase infeksinya telah membaik. Namun seringkali gejala gangguan saluran napas berkelanjutan tetapi masuk dalam fase non infeksi.



GEJALA
ALERGI
INFEKSI SALURAN NAPAS AKUT



BATUK
KADANG, terutama malam dan pagi hari
SERINGKALI setiap saat, pagi, siang dan malam hari
NYERI SELURUH TUBUH JARANG SERINGKALI

MATA GATAL SERING JARANG atau TIDAK PERNAH

BERSIN SELALU SELALU

SARIAWAN JARANG SERING

HIDUNG BUNTU SERING SERING

HIDUNG BERAIR SERING SERING

DEMAM TIDAK PERNAH SERING

LAMA SAKIT 3 – 7 HARI LEBIH DARI 2 MINGGU

PENGOBATAN Antihistamines
Decongestants
Nasal Nonsteroidal anti inflammatory medicines
Antihistamines
Nasal steroids
Decongestan

Dr WIDODO JUDARWANTO SpA, CHILDREN ALLERGY CENTER

GANGGUAN KULIT DAN SALURAN CERNA YANG MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA ANAK DENGAN GANGGUAN TELINGA HIDUNG DAN TENGOOROKAN :

Gangguan alergi pada telinga hidung atau tengoorokan biasanya sering disertai oleh gangguan kulit (dermatitis atopi) dan gangguan pada saluran cerna. Tanda dan gejala alergi pada kulit dan saluran cerna biasanya sudah dapat di deteksi sejak lahir.

GANGGUAN KULIT :
PADA BAYI :
• Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut kepala.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan.
• Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat, keringat berlebihan.
PADA ANAK LEBIH BESAR
• Kulit timbul bisul, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Sering menggosok mata, hidung atau telinga. Kotoran telinga berlebihan. Muydah timbul biang keringat. BILA SAKIT DEMAM, BATUK ATAU PILEK PADA PUNGGUNG SERING KULIT TERKELUPAS (sering dikira karena pemberian minyak telon, padahal daerah perut juga diberi minyak telon tetapi tidak timbul gangguan kulit yang sama)
• Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata.
• Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
• Sering lebam kebiruan pada kaki/tangan seperti bekas terbentur. Disertai kaki dan tangan sering nyeri saat malam hari, ditandai anak sering lebih senang bila dipijat kaki dan tangannya.

GANGGUAN SALURAN CERNA
PADA BAYI :
• Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan/hicups”, buang angin bunyinya keras, sering “ngeden & mulet”, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
• PROBLEM MINUM ASI : sering menangis seperti minta minum sehingga berat badan berlebihan karena minta minum terus akibat perut tidak nyaman. Sehingga kenaikan berat badan berlebihan. Sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang. Sering menggigit puting (agresif) sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi, karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
PADA ANAK LEBIH BESAR :
• Sering nyeri perut. Sering muntah , nyeri perut, SULIT MAKAN disertai berat badan kurang (biasanya setelah umur 4-6 bulan).
• Sering sariawan, lidah sering putih/kotor nyeri gusi/gigi, mulut berbau, air liur berlebihan, bibir kering.
• Sering Buang air besar (> 2 kali/hari), tidak buang air besar tiap hari, sulit buang air besar (obstipasi/konstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana.
• GANGGUAN SEKITAR MULUT : KETERLAMBATAN GIGI SAAT USIA DI BAWAH 1 TAHUN, sering sariawan, lidah sering putih, kotor dan berpulau-pulau, nyeri gusi/gigi, mulut berbau, air liur berlebihan, bibir kering. GIGI SERING BERWARNA KUNING, GAMPANG RAPUH dan RUSAK (gangguan ini sering dianggap karena tidak rajin menggosok gigi atau minum susu pada malam hari. SERING TIMBUL TONJOLAN PUTIH DI DAERAH GUSI DEPAN.
• Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Sering berkeringat (berlebihan). TIDAK SUKA UDARA PANAS, TAHAN TERHADAP UDARA DINGIN.

ALERGI DAN GANGGUAN TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROKAN SERING DISERTAI GANGGUAN OTAK BERUPA GANGGUAN PERKEMBANGAN, GANGGUAN PERILAKU DAN GANGGUAN NEUROANATOMIS LAINNYA

• GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong atau diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}, sering memanjat. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
• GANGGUAN TIDUR MALAM : gelisah/bolak-balik ujung ke ujung, bila tidur posisi “nungging”, berbicara,tertawa,berteriak saat tidur, sulit tidur, malam sering terbangun/duduk,mimpi buruk, “beradu gigi” atau bruxism.
• AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
• GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
• EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala
• GANGGUAN SENSORIS & KOORDINASI MOTORIK:
Bolak-balik, duduk, merangkak tidak sesuai usia. Terlambat berjalan, jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, jalan jinjit, duduk leter ”W”, posisi jalan dan berlari terlihat aneh. Terlambat mengayuh sepeda dan melompat. Takut ketinggian atau menaiki mainan yang bergerak-gerak seperti kuda-kudaan.TIDAK SUKA OLAHRAGA. Tetapi mempunyai kelebihan pada motorik halus seperti menggambar, menulis halus, kerajinan tangan, bermain komputer atau game.
• GANGGUAN ORAL MOTOR : KETERLAMBATAN BICARA Tidak mengeluarkan kata umur < 15 bulan, hanya 4-5 kata umur 20 bulan, kemampuan bicara hilang dari yang sebelumnya bisa, biasanya > 2 tahun membaik.
• GANGGUAN MAKAN : gangguan menelan-mengunyah, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur (kangkung, dll), TERLAMBAT MAKAN NASI, LEBIH BANYAK MINUM SUSU DIBANDINGKAN MAKAN. Tetapi makan bahan makanan yang keras seperti krupuk, biskuit, kacang tanah mudah.
• ANAK MUDAH JIJIK, bila ada bau yang tidak enak, menyengat atau terlalu keras sering mual atau mau muntah.
• IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
• Sering sakit kepala atau migrain atau beresiko mudah terjadi kejang saat demam atau kejang non spesifik lainnya. Mata sering berkedip (TICKS). Beresiko mengalami PEMAKAIAN KACA MATA (tebal) SILINDRIS sejak usia sangat muda (usia 6-12 tahun).
• Memperberat gejala AUTIS dan ADHD

KOMPLIKASI
• SERING MENGALAMI INFEKSI BERULANG (RECURENT INFECTION). MUDAH BATUK, PILEK DAN DEMAM 1-2 KALI PERBULAN disertai tonsil atau amandel sering membesar.
• Efek samping dari minum obat yang sering dan berkepanjangan
• KADANG GEJALA KLINIS ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC , SEHINGGA SERING DIOBATI ANTIBIOTIKA JANGKA PANJANG (PADAHAL DIAGNOSIS TBC BELUM TENTU BENAR)
• GIZI GANDA (berat badan kurang/kurang gizi atau Berat badan lebih) & KESULITAN MAKAN (berat badan sulit naik)
• ANAK SERING TAMPAK LEMAS DAN MUDAH CAPEK. Sering minta digendong bila jalan agak lama. Sering rewel dan marah tanpa penyebab

PENTING HARUS DIPAHAMI
• WASPADAI BILA ORANG TUA MENDERITA ALERGI PADA HIDUNG SEPERTI : MUDAH BERSIN ATAU HIDUNG BUNTU, SERING MIMISAN, SINUSITIS, HIDUNG BENGKOK, POLIP, SERING BATUK BERDEHEM, SERING NYERI TENGGOROK. BERESIKO MENURUN PADA ANAK DAN ORANGTUA YANG WAJAH DAN FISIKNYA SAMA ATAU GOLONGAN DARAHNYA SAMA.
• ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN GANGGUAN TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROK DAPAT DICEGAH DAN DIMINIMALKAN SEJAK DINI
• PEMBERIAN OBAT JANGKA PANJANG UNTUK ANTI ALERGI DAN OBAT UNTUK GANGGUAN GANGGUAN TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROK ADALAH BUKTI KEGAGALAN DALAM MENDETEKSI PENYEBAB ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROK
• DISEKITAR KITA BANYAK TIMBUL KONTROVERSI TENTANG ALERGI MAKANAN BAIK OLEH MASYARAKAT ATAU DIANTARA KLINISI SEHINGGA KADANG MEMBINGUNGKAN. SETELAH MENGALAMI SENDIRI TERNYATA BAHWA ALERGI MAKANAN SANGAT MENGGANGGU ANAK MAKA KITA HARUS LEBIH PERCAYA PADA FAKTA YANG TERJADI TERSEBUT
• MENUNDA MAKANAN PENYEBAB ALERGI TIDAK MEMPENGARUHI STATUS GIZI ANAK ASALKAN MENGETAHUI JENIS MAKANAN PENGGANTINYA
• UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROK BUKAN DENGAN TES ALERGI (TES KULIT ATAU TES DARAH) TETAPI DENGAN menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
• SEBAIKNYA JANGAN MENGHINDARI DAN MEMBOLEHKAN MAKANAN HANYA BERDASARKAN TES KULIT DAN TES DARAH
• HINDARI MINUM OBAT JANGKA PANJANG & KOMPLIKASI YANG TERJADI
• SERING DIANGGAP BIASA KARENA SEBAGIAN BESAR ANAK BANYAK YANG MENGALAMI KELUHAN ITU. TETAPI BILA TIDAK DIATASI SEJAK DINI DALAM JANGKA PANJANG SAAT USIA LEBIH BESAR GANGGUAN INI BERESIKO MENIMBULKAN BERBAGAI GANGGUAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MESKIPUN HANYA RINGAN.



ALERGI MAKANAN SEBAGAI PENYEBAB UTAMA

Alergi pada pernapasan sering ditimbulkan oleh adanya pencetus seperti hirupan dan makanan. Pada bayi dan anak makanan adalah sebagai pencetus yang utama sedangkan pada orang dewasa/tua pengaruh makanan semakin berkurang. Pencetus lainnya adalah hirupan seperti debu, serbuk sari bunga, bulu binatang, tungau (pada kasur kapuk).
Keluhan batuk karena alergi yang demikian lama tidak sembuh dengan berbagai macam pengobatan, sering terjadi overtreatment atau over diagnosis sebagai tuberkulosis. Permasalahan tersebut akan dibahas dalam bab infeksi dan alergi. Istilah “Pertusis Like symptom” atau “Gejala seperti Pertusis” sering diberikan pada kasus batuk lama tersebut, karena kadang gejala hampir sama dengan pertusis tetapi tidak terdapat tanda infeksi.
Penyakit alergi khususnya yang disebabkan karena alergi makanan tampaknya berperanan paling utama sebagai penyebab dalam kasus gangguan saluran napas yang berkepanjangan. Alergi makanan dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan saluran napas. Tetapi pada kenyataan sehari-hari sebagian besar masyarakat bahkan sebagian klinisi masih sering menganggap debu sebagai biangkeladi penyebabnya. Hal ini terjadi karena pada umumnya tes kulit alergi yang sering terdeteksi adalah debu sedangkan makanan sering negatif. Hal ini terjadi karena pada tes kulit yang terdeteksi hanyalah penyebab alergi reaksi cepat atau kurang dari 8 jam. Sedangkan penyebab alergi yang masuk kategori reaksi lambat atau lebih dari 8 jam seperti sebagain besar makanan seringkali hasilnya negatif, Hal negatif ini bukan berarti penderita tidak alergi makanan.
Untuk memastikan penyebab alergi makanan bukan dengan tes kulit. Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
Debu yang paling sering dianggap sebagai penyebab alergi adalah debu rumah atau ”house dust”. Debu di luar rumah jarang dianggap sebagai penyebab alergi. Bila dicermati debu yang selama ini dianggap sebagai biang keladi penyebab alergi makan bisa disingkirkan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa keluhan alergi seperti batuk dan pilek seringkali timbul saat malam dan pagi hari. Padahal debu adalah reaksi cepat yang seharusnya lebih banyak timbul saat siang hari saat aktifitas. Fakta lain juga terjadi banyak orangtua yang telah membersihkan semua debu, boneka, karpet dan dipasang air condition plasma cluster tetapi ternyata gejala alergi batuk dan pilek tidak kunjung hilang.
Dingin atau AC sering juga dianggap biang keladi penyebabnya. Mungkin memang benar dingin sebagai pemicu atau memperberat gangguan yang sudah ada. Tetapi pendapat ini tidak sepenuhnya benar karena banyak penderita alergi batuk saat tidur siang dengan AC yang sangat dingin tidak timbul gejala batuk tersebut. Hingga saat ini masih belum diketahui mengapa gejala alergi atau asma sering timbul saat malam hari. Diduha peranan hormonal sirkadial yang mengakibatkan fenomena gejala saat malam dan pagi hari lebih sering terjadi.

PENCETUS ALERGI
Timbulnya gejala alergi bukan saja dipengaruhi oleh penyebab alergi, tapi juga dipengaruhi oleh pencetus alergi. Beberapa hal yang menyulut atau mencetuskan timbulnya alergi disebut faktor pencetus. Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik seperti dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan tertawa, menangis, berlari,olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau ketakutan.
Faktor hormonal juga memicu terjadinya alergi pada orang dewasa. Faktor gangguan kesimbangan hormonal itu berpengaruh sebagai pemicu alergi biasanya terjadi saat kehamilan dan menstruasi. Sehingga banyak ibu hamil mengeluh batuk lama, gatal-gatal dan asma terjadi terus menerus selama kehamilan. Demikian juga saat mentruasi seringkali seorang wanita mengeluh sakit kepala, nyeri perut dan sebagainya.
Faktor pencetus sebetulnya bukan penyebab serangan alergi, tetapi menyulut terjadinya serangan alergi. Bila mengkonsumsi makanan penyebab alergi disertai dengan adanya pencetus maka keluhan atau gejala alergi yang timbul jadi lebih berat. Tetapi bila tidak mengkonsumsi makanan penyebab alergi meskipun terdapat pencetus, keluhan alergi tidak akan muncul. Pencetus alergi tidak akan berarti bila penyebab alergi makanan dikendalikan.
Hal ini yang dapat menjelaskan kenapa suatu ketika meskipun dingin, kehujanan, kelelahan atau aktifitas berlebihan seorang penderita asma tidak kambuh. Karena saat itu penderita tersebut sementara terhindar dari penyebab alergi seperti makanan, debu dan sebagainya. Namun bila mengkonsumsi makanan penyebab alergi bila terkena dingin atau terkena pencetus lainnya keluhan alergi yang timbul lebih berat. Jadi pendapat tentang adanya alergi dingin mungkin keliru.

PENUTUP
Alergi makanan tampaknya berperanan penting dalam penyebab gangguan telinga, hidung dan tenggorok. Diagnosis pasti alergi makanan hanya dipastikan dengan Double Blind Placebo Control Food Chalenge (DBPCFC). Penghindaran makanan penyebab alergi tidak dapat dilakukan hanya atas dasar hasil tes kulit alergi atau tes alergi lainnya. Seringkali hasil yang didapatkan tidak optimal karena keterbatasan pemeriksaan tersebut dan bukan merupakan baku emas atau gold Standard dalam menentukan penyebab alergi makanan. Selain mengidentifikasi penyebab alergi makanan, penderita harus mengenali pemicu alergi.
Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obatan anti alergi dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi. Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala gangguan gangguan telinga, hidung dan tenggorok.

DAFTAR PUSTAKA

1. Luyasu S, Morisset M, Guenard L, Kanny G, Moneret-Vautrin DA. Acute recurrent otalgia and food allergy: a case report and review of the literature. Allerg Immunol (Paris). 2005 Feb;37(2):60-2
2. Host A. Mechanisms in adverse reactions to food. The ear. : Allergy. 1995;50(20 Suppl):64-7
3. Bernstein JM. The role of IgE-mediated hypersensitivity in the development of otitis media with effusion. Otolaryngol Clin North Am. 1992 Feb;25(1):197-211.
4. Isolauri E, Ouwehand AC, Laitinen K. Novel approaches to the nutritional management of the allergic infant. Acta Paediatr Suppl. 2005 Oct;94(449):110-4.
5. Woods RK, Thien F, Raven J, Walters EH, Abramson M. Prevalence of food allergies in young adults and their relationship to asthma, nasal allergies, and eczema. Ann Allergy Asthma Immunol. 2002 Feb;88(2):183-9
6.


posted on Jan 25, 2008 10:39 AM ()

Comment on this article   


60 articles found   [ Previous Article ]  [ Next Article ]  [ First ]  [ Last ]